BeritaNara
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Dorong Warga Jadi Wirausaha, Dinkopnaker Boyolali Kucurkan DBHCHT Rp150 Juta untuk Pelatihan TKM

Published Agustus 18, 2026 · Updated Agustus 18, 2026 · By Michael Johnson - beritanara.com

Dinkopnaker Boyolali Dorong Warga Jadi Wirausaha

Beritanara.com – Dorong Warga Jadi Wirausaha Dinkopnaker Boyolali menjadi prioritas utama Pemerintah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dalam menciptakan lapangan kerja mandiri bagi masyarakat. Melalui alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun anggaran 2026 sebesar Rp150 juta, Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja (Dinkopnaker) Boyolali menyalurkan dana tersebut untuk pelaksanaan program Tenaga Kerja Mandiri (TKM). Program ini dirancang agar warga tidak lagi bergantung pada satu sumber penghasilan, melainkan mampu membangun usaha kecil yang berkelanjutan di lingkungan masing-masing.

Dua Jalur Pelatihan dengan Total 40 Peserta

Pada tahun berjalan, Dinkopnaker Boyolali menyiapkan dua jalur pelatihan yang masing-masing menampung 20 peserta, sehingga total penerima manfaat mencapai 40 orang. Jalur pertama berfokus pada pengolahan produk turunan pisang dan dilaksanakan di Kecamatan Wonosegoro. Jalur kedua mencakup pelatihan tata rias serta make up artist (MUA) yang menyasar wilayah Gladagsari dan Ampel.

Pemilihan jenis pelatihan tidak dilakukan secara acak. Kepala Dinkopnaker Boyolali, Sawitri Danik Rahayuni, menjelaskan bahwa pemerintah terlebih dahulu memetakan potensi ekonomi yang sudah berkembang di tiap wilayah sebelum menentukan materi pelatihan. Pendekatan berbasis potensi lokal ini memastikan bahwa keterampilan yang diberikan relevan dengan kondisi pasar setempat dan dapat langsung diterapkan oleh peserta.

Pisang sebagai Komoditas Unggulan di Wonosegoro

Di kawasan Wonosegoro dan Juwangi, pisang termasuk komoditas pertanian yang cukup menonjol dan telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi harian warga. Selama ini, sebagian masyarakat masih menjual buah tersebut dalam kondisi mentah atau sekadar mengolahnya menjadi keripik dengan teknik sederhana yang bernilai jual rendah.

"Kami mencoba memberikan keterampilan dan pengetahuan supaya pisang bisa diolah dalam bentuk yang lain. Dengan begitu, akan memberikan nilai tambah dari produk pertanian itu sendiri."

Sawitri menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah memperluas variasi olahan pisang—mulai dari produk pangan olahan hingga bahan baku industri kecil—sehingga nilai ekonomi dari komoditas tersebut dapat meningkat secara signifikan. Dengan keterampilan yang tepat, satu kilogram pisang mentah dapat diolah menjadi produk bernilai jual berkali lipat lebih tinggi.

Peluang Pasar Jasa Rias yang Makin Terb lebar

Sementara itu, pelatihan tata rias dan MUA dipilih karena permintaan jasa rias dinilai terus meluas dari tahun ke tahun. Kebutuhan akan jasa MUA kini tidak lagi terbatas pada pesta pernikahan, melainkan juga mencakup hajatan, wisuda, pemotretan keluarga, serta berbagai acara berskala kecil lainnya. Pertumbuhan ini menciptakan celah pasar yang dapat diisi oleh pelaku usaha mikro di tingkat desa dan kelurahan.

"Pangsa pasarnya semakin ke sini bagus. Orang membutuhkan MUA tidak hanya untuk mantenan, tetapi ketika jagong, wisuda, dan acara-acara kecil lainnya. Kami coba arahkan ke pelatihan tata rias dan MUA untuk membentuk usaha kecil MUA."

Target Penerima Manfaat dan Dampak Jangka Panjang

Program TKM ini diarahkan kepada masyarakat berdasarkan data kesejahteraan, mencakup kelompok desil 1 hingga desil 5. Artinya, prioritas diberikan kepada warga yang masih berada pada tingkat ekonomi menengah ke bawah agar mereka memperoleh akses keterampilan yang selama ini sulit dijangkau secara mandiri.

Sawitri menegaskan bahwa tujuan akhir dari seluruh rangkaian pelatihan bukan sekadar transfer keterampilan teknis, melainkan pembentukan wirausaha pemula yang mampu membuka peluang ekonomi bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Setiap peserta diharapkan mampu membentuk embrio usaha yang pada tahap berikutnya dapat menyerap tenaga kerja dari tetangga dan keluarga.

"Harapannya masyarakat tertarik untuk berwirausaha, menjadi wirausaha pemula, membentuk embrio usaha yang pada akhirnya bisa menciptakan lapangan kerja buat dirinya sendiri, bahkan lebih lanjut untuk lingkungan sekitarnya."

Pernyataan tersebut disampaikan Sawitri saat ditemui di kantornya pada Jumat (14/08/2026). Program ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan Dinkopnaker Boyolali untuk mendorong warga jadi wirausaha melalui pendampingan terstruktur, bukan sekadar pelatihan satu kali.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Program TKM Boyolali

Apa itu DBHCHT dan mengapa bisa dipakai untuk pelatihan wirausaha? DBHCHT adalah Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau yang dialokasikan pemerintah pusat kepada daerah penghasil tembakau. Sebagian dana tersebut diperuntukkan bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat, termasuk pelatihan keterampilan dan pendampingan usaha mikro.

Siapa yang berhak mengikuti pelatihan TKM ini? Warga Boyolali yang termasuk dalam kelompok desil 1 hingga desil 5 berdasarkan data kesejahteraan. Kuota tahun berjalan dibatasi 40 peserta yang terbagi rata ke dua jalur pelatihan.

Bagaimana cara mendaftar atau mendapatkan informasi lebih lanjut? Warga dapat menghubungi kantor Dinkopnaker Boyolali secara langsung atau melalui kanal resmi pemerintah kabupaten untuk mengetahui jadwal, syarat, dan lokasi pelatihan yang tersedia di wilayah masing-masing.

Related Reading