BeritaNara
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

PBB: Hampir 50 Ribu Perempuan Gaza Tewas dan Cacat Permanen sejak Oktober 2023

Published Oktober 11, 2026 · Updated Oktober 11, 2026 · By Charles Lopez - beritanara.com

Foto : Charles Lopez - beritanara.com

UN Women Soroti Dampak Berat Konflik Gaza terhadap Perempuan dan Anak Perempuan

Beritanara.com – PBB - Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza terus meninggalkan dampak yang sangat besar bagi perempuan dan anak perempuan. Badan PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan, UN Women, menyatakan hampir 50.000 perempuan dan anak perempuan telah meninggal dunia atau mengalami luka berat sejak perang pecah pada Oktober 2023.

Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa konsekuensi konflik tidak berhenti pada kerusakan bangunan, perpindahan penduduk, atau keterbatasan pangan. Banyak perempuan kini menghadapi kehilangan anggota keluarga, rumah, sumber penghidupan, serta akses terhadap layanan kesehatan dan perlindungan dasar dalam waktu yang bersamaan.

Puluhan Ribu Tewas dan Hidup dengan Disabilitas

Ketua Aksi Kemanusiaan UN Women, Sofia Calltorp, menyampaikan data itu pada Jumat, 9 Oktober 2026. Ia menyebut jumlah korban perempuan dan anak perempuan yang terdampak secara langsung telah mencapai angka yang sangat mengkhawatirkan.

“Lebih dari 38.000 orang tewas dan 11.700 lainnya mengalami cedera yang sangat parah sehingga kini mereka hidup dengan disabilitas seumur hidup,” tegas Sofia Calltorp.

Angka tersebut mencakup perempuan dan anak perempuan yang kehilangan nyawa serta mereka yang harus menjalani kehidupan dengan cedera permanen. Disabilitas akibat luka perang dapat menciptakan kebutuhan jangka panjang, mulai dari perawatan medis berkelanjutan, rehabilitasi, alat bantu mobilitas, hingga dukungan psikososial.

Dalam keadaan ketika fasilitas kesehatan juga mengalami tekanan berat, kebutuhan tersebut menjadi semakin sulit dipenuhi. Kehancuran infrastruktur dan kondisi pengungsian membuat akses terhadap pemeriksaan, pengobatan, serta pemulihan fisik menjadi persoalan penting bagi para penyintas.

Gencatan Senjata Belum Menghentikan Korban Jiwa

Kesepakatan gencatan senjata memang telah berlaku sejak Oktober tahun lalu. Namun, kekerasan yang masih muncul secara sporadis tetap menimbulkan korban. Setidaknya 277 perempuan dan anak perempuan dilaporkan meninggal sepanjang masa pemberlakuan gencatan senjata tersebut.

Situasi ini menegaskan bahwa penghentian konflik di atas kertas belum otomatis menciptakan rasa aman bagi warga sipil. Perempuan dan anak perempuan yang telah kehilangan tempat tinggal masih berada dalam lingkungan yang tidak stabil, dengan ancaman kekerasan dan keterbatasan akses bantuan tetap membayangi kehidupan sehari-hari.

Bagi keluarga yang terpaksa berpindah berkali-kali, ketidakpastian ini dapat memperbesar beban pengasuhan, pencarian kebutuhan pokok, dan perlindungan anak. Dalam kondisi darurat berkepanjangan, keselamatan fisik dan keberlangsungan hidup sering kali menjadi perjuangan yang harus dilakukan dari hari ke hari.

Hampir Satu Juta Perempuan Kehilangan Tempat Tinggal

PBB memperkirakan hampir satu juta perempuan dan anak perempuan di Gaza telah terusir dari tempat tinggal mereka. Banyak di antara mereka tinggal di tenda darurat dengan fasilitas sanitasi yang sangat terbatas. Sebagian lainnya bertahan di bangunan rusak atau reruntuhan yang tersisa setelah serangan udara.

Kehilangan rumah bukan sekadar persoalan tempat berlindung. Bagi perempuan, kondisi pengungsian dapat memengaruhi privasi, keamanan, kesehatan reproduksi, serta kemampuan merawat anak-anak dan anggota keluarga lain. Ketersediaan air bersih, toilet, ruang aman, dan pelayanan kesehatan menjadi kebutuhan mendesak yang tidak dapat dipisahkan dari perlindungan kemanusiaan.

Perubahan besar juga terjadi dalam struktur keluarga di Gaza. Jumlah rumah tangga yang dipimpin perempuan meningkat hingga dua kali lipat. Saat ini, satu dari empat rumah tangga bergantung pada seorang perempuan sebagai penopang utama.

Perempuan yang menjadi kepala keluarga menghadapi tanggung jawab berlapis. Mereka harus mencari cara untuk memperoleh makanan, menjaga keselamatan keluarga, mengurus anak-anak, dan menghadapi dampak kehilangan atau cedera anggota keluarga. Tekanan ekonomi yang sudah berat menjadi semakin kompleks ketika peluang untuk bekerja dan mengakses bantuan juga terbatas.

Pemangkasan Bantuan Memperburuk Kondisi Warga

Kebutuhan mendesak di Gaza bertambah ketika bantuan internasional mengalami penghentian dan pemangkasan pendanaan. Dari 14 organisasi kemanusiaan lokal yang disurvei, 13 menyatakan tidak lagi mampu memenuhi peningkatan kebutuhan bantuan darurat di tengah masyarakat.

Keterbatasan tersebut berpotensi memengaruhi layanan penting, termasuk bantuan pangan, tempat perlindungan, perlengkapan kebersihan, dukungan bagi penyintas kekerasan, dan pendampingan kesehatan mental. Ketika kapasitas organisasi lokal melemah, keluarga yang paling rentan dapat menjadi pihak pertama yang kehilangan akses terhadap pertolongan.

Seluruh lembaga bantuan di lapangan juga mencatat peningkatan kasus kekerasan berbasis gender, kemiskinan ekstrem, dan gangguan kesehatan mental sejak 2025. Dampak psikologis konflik yang panjang dapat muncul dalam bentuk kecemasan, duka mendalam, tekanan emosional, serta rasa tidak aman yang terus-menerus.

Selain itu, 13 organisasi mengonfirmasi tingginya angka pernikahan anak yang berkaitan dengan tekanan ekonomi. Fenomena ini menunjukkan bagaimana krisis berkepanjangan dapat mendorong keluarga mengambil keputusan sulit ketika pilihan untuk bertahan hidup semakin menyempit.

Desakan untuk Perlindungan Sipil dan Penegakan Hukum

UN Women menyerukan pelaksanaan penuh gencatan senjata, penghormatan terhadap hukum humaniter internasional, serta penegakan hukum atas seluruh pelanggaran hak asasi manusia di Palestina. Seruan tersebut menempatkan perlindungan warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak, sebagai kebutuhan yang tidak dapat ditunda.

Perhatian terhadap kondisi perempuan Gaza penting karena mereka tidak hanya menjadi korban langsung dari kekerasan, tetapi juga memikul peran utama dalam menjaga keluarga tetap bertahan. Perlindungan yang efektif memerlukan keselamatan, akses bantuan tanpa hambatan, layanan kesehatan, tempat tinggal layak, dan dukungan untuk memulihkan kehidupan mereka.

“Apa yang telah kami temukan adalah penderitaan kolektif yang mengerikan, rasa sakit yang luar biasa, dan tingkat ketangguhan dan kekuatan yang seharusnya tidak perlu ditanggung oleh perempuan mana pun,” pungkas Calltorp.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is PBB?

PBB is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does PBB matter?

PBB matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.