BeritaNara
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

HBM ke-13 Bawa Misi Pembangunan Peradaban Global Lewat Ilmu dan Spiritualitas

Published September 6, 2026 · Updated September 6, 2026 · By Joseph Brown - beritanara.com

Foto : Joseph Brown - beritanara.com

UMJ Gelar HBM ke-13: Menyatukan Etos Keilmuan dan Spiritualitas untuk Peradaban Global

Beritanara.com – Di tengah percepatan transformasi digital dan persaingan geopolitik yang menuntut sumber daya manusia berdaya saing tinggi, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) memilih momentum yang berbeda untuk menegaskan identitasnya. Melalui penyelenggaraan Hari Bermuhammadiyah (HBM) ke-13, kampus yang berkedudukan di Kota Tangerang Selatan itu mengangkat persoalan fundamental: bagaimana keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan kedalaman spiritual dapat menjadi fondasi bagi pembangunan peradaban berskala global. Acara tersebut berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026, di lingkungan kampus UMJ, Tangsel, dan dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional serta sivitas akademika persyarikatan.

Dimensi Tema: Ilmu dan Spiritualitas sebagai Satu Kesatuan

Tema yang diusung tahun ini, yakni "Urgensi Keseimbangan Etos Ilmu dan Spiritualitas dalam Membangun Peradaban Global", bukan sekadar frasa retoris. Ia merujuk pada kekhawatiran yang semakin nyata di dunia akademik: bahwa penguasaan teknologi dan metodologi ilmiah tanpa landasan etis-spiritual berpotensi melahirkan kemajuan yang destruktif. Sebaliknya, spiritualitas tanpa daya analitis dan kapasitas intelektual berisiko terjebak dalam formalitas ritual yang tidak produktif. UMJ, sebagai salah satu perguruan tinggi terbesar di bawah naungan Muhammadiyah, memandang bahwa kedua dimensi tersebut harus berjalan beriringan agar lulusan yang dihasilkan mampu berkontribusi pada tatanan global secara bertanggung jawab.

HBM sendiri merupakan tradisi tahunan yang telah berlangsung sejak 2014. Setiap edisi menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang—akademisi, pejabat negara, tokoh persyarikatan—untuk memperkaya wacana tentang peran Muhammadiyah dalam konteks keindonesiaan dan keislaman kontemporer. Edisi ke-13 ini secara khusus menyoroti dimensi internasional, mengingat posisi Indonesia yang semakin sentral dalam forum-forum multilateral dan diplomasi ilmu pengetahuan.

Pesan dari Istana: Jabatan sebagai Amanah Sementara

Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia, Dudung Abdurachman, hadir sebagai salah satu narasumber utama. Dalam paparannya, ia mengingatkan bahwa setiap posisi kepemimpinan, termasuk di lingkungan persyarikatan, pada hakikatnya bersifat transien. Yang menetap bukanlah gelar atau jabatan, melainkan jejak pengabdian yang ditinggalkan selama seseorang memegang amanah tersebut.

Dudung menyampaikan harapan agar Muhammadiyah tidak berhenti pada dimensi organisatoris semata, melainkan terus menjadi entitas yang menghadirkan manfaat konkret bagi masyarakat luas dan bagi bangsa secara keseluruhan. Ia menekankan bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan terletak pada lama atau singkatnya masa jabatan, melainkan pada kualitas kontribusi yang diberikan.

"Yang lebih penting adalah bagaimana menjadi manusia yang lebih amanah, lebih bermanfaat, dan lebih mengabdi kepada bangsa dan negara."

Pernyataan tersebut, yang disampaikan pada Sabtu, 5 September 2026, sejalan dengan prinsip dasar Muhammadiyah yang menempatkan khidmat sosial sebagai inti gerakan, bukan sekadar aktivitas keagamaan internal.

Rektor UMJ: Memperkuat Kohesi Akademik dan Spiritual

Ma'mun Murod Al-Barbasy, selaku Rektor UMJ, memosisikan HBM ke-13 sebagai instrumen penguatan semangat keilmuan sekaligus pendalaman spiritualitas di lingkungan kampus. Baginya, acara semacam ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang deliberatif yang mempererat ikatan kebersamaan di antara dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan.

Ia juga menyoroti dimensi partisipatif: sivitas akademika UMJ didorong untuk tidak hanya menjadi penerima ilmu, tetapi juga kontributor aktif bagi persyarikatan dan masyarakat di sekitarnya. Dalam konteks ini, HBM berfungsi sebagai katalis yang mengaktifkan kembali komitmen kolektif terhadap misi persyarikatan.

"Ini menjadi bagian dari tanggung jawab kita bersama untuk terus membangun dan memberikan kontribusi bagi Muhammadiyah."

Ketua BPH: Niat sebagai Titik Awal Transformasi

Abdul Mu'ti, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMJ, membawa perspektif yang lebih filosofis. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai Muhammadiyah tidak boleh berhenti sebagai label identitas, melainkan harus terinternalisasi dalam pola pikir, perilaku sehari-hari, dan tindakan nyata yang berorientasi pada kemaslahatan umum.

Mu'ti mengutip prinsip klasik Islam tentang hubungan antara niat dan amal untuk menegaskan bahwa setiap perubahan bermakna harus berawal dari transformasi batin. Tanpa pergeseran mindset yang autentik, upaya reformasi struktural akan kehilangan daya dorongnya dan berubah menjadi formalitas belaka.

"Innamal a'malu binniat, setiap amal bergantung pada niat. Bermuhammadiyah bukan hanya soal identitas, tetapi bagaimana nilai-nilai Muhammadiyah diwujudkan dalam pola pikir, perilaku, dan tindakan nyata yang memberikan kemanfaatan bagi masyarakat. Karena itu, perubahan yang baik harus dimulai dari niat dan mindset yang baik, kemudian diwujudkan dalam tindakan yang berorientasi pada kemaslahatan."

Implikasi dan Konteks Lebih Luas

Penyelenggaraan HBM ke-13 ini terjadi pada periode ketika Indonesia sedang mengonsolidasikan posisinya dalam berbagai forum internasional, mulai dari G20 hingga kerja sama riset multilateral. Dalam lanskap tersebut, perguruan tinggi berbasis persyarikatan seperti UMJ memegang peran strategis: mereka menghasilkan SDM yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga berlandaskan etika dan visi kemanusiaan yang jelas.

Lebih jauh, penekanan pada keseimbangan ilmu dan spiritualitas menjawab tantangan global yang semakin nyata—ketergantungan berlebihan pada teknologi tanpa kerangka etis, polarisasi ideologis yang mengikis dialog antarperadaban, serta krisis makna di kalangan generasi muda. Dengan menjadikan keseimbangan tersebut sebagai tema sentral, UMJ secara implisit menyatakan bahwa kontribusi Indonesia pada peradaban global tidak boleh direduksi menjadi sekadar transfer teknologi atau ekspansi ekonomi, melainkan harus mencakup dimensi normatif dan spiritual yang memberi arah pada kemajuan itu sendiri.

Bagi sivitas akademika UMJ dan simpatisan persyarikatan secara lebih luas, pesan dari tiga narasumber utama HBM ke-13 ini dapat dirangkum dalam satu garis benang: bahwa kekuatan sebuah gerakan terletak bukan pada besarnya struktur organisasinya, melainkan pada kedalaman komitmen individunya untuk mengabdi, beramal, dan bertransformasi secara autentik. Dalam kerangka itulah, keseimbangan antara etos ilmu dan spiritualitas bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is HBM ke 13 Bawa Misi Pembangunan?

HBM ke 13 Bawa Misi Pembangunan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does HBM ke 13 Bawa Misi Pembangunan matter?

HBM ke 13 Bawa Misi Pembangunan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.