Nasional

Sempat Padam, Kawasan Gunung Batak Kembali Dilanda Karhutla

6a9b1449c8b4e-sempat-padam-kawasan-gunung-batak-kembali-dilanda-karhutla_488_274

Api Kembali Menyala di Gunung Batak: Upaya Pemadaman Manual Gagal Akibat Angin Kencang

Beritanara.com – Kawasan hutan lindung di lereng Gunung Batak, Kabupaten Malang, Jawa Timur, kembali diliputi kepulan asap pada Jumat (4/9/2026). Titik api yang sebelumnya berhasil dipadamkan tiga hari sebelumnya tiba-tiba menyala ulang, memaksa petugas Perum Perhutani menghentikan operasi pemadaman manual karena kondisi cuaca yang tidak mendukung. Insiden ini menambah daftar panjang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang di kawasan pegunungan Jawa Timur sepanjang musim kemarau.

Lokasi dan Kronologi Penemuan Ulang Titik Api

Petugas Perum Perhutani menemukan kembali bara api pada pukul 10.00 WIB di Petak 100 Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Pujon Selatan. Titik tersebut identik dengan lokasi kebakaran yang terjadi pada Selasa (1/9/2026) dan sempat dinyatakan padam. Administratur Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Malang, Kelik Djatmiko, mengonfirmasi bahwa posisi api tidak bergeser dari titik awal.

“Api menyala kembali sejak jam 10 pagi tadi setelah sebelumnya sudah padam, titiknya sama,” kata Kelik.

Dari sisi administrasi pemerintahan, Petak 100 RPH Pujon Selatan berada di wilayah Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Secara geografis, titik kebakaran terletak di antara Pos 3 dan Pos 4 jalur pendakian, dengan jarak sekitar satu kilometer dari jalur yang biasa dilalui pendaki. Artinya, kebakaran ini tidak secara langsung mengancam keselamatan pengunjung yang mendaki di jalur resmi, namun tetap mengancam ekosistem hutan lindung di sekitarnya.

Pemadaman Manual Dihentikan karena Medan dan Cuaca

Segera setelah api terdeteksi, tim petugas turun ke lokasi dan memulai upaya pemadaman secara manual. Namun, proses tersebut terpaksa dihentikan sekitar pukul 15.00 WIB. Dua faktor utama menjadi penyebab penghentian: hembusan angin kencang yang memperbesar risiko api menjalar ke area baru, serta medan yang sangat sulit dijangkau dari sisi darat.

“Situasi tidak memungkinkan untuk dilakukan pemadaman dari darat dan potensi membahayakan bagi tim pemadam,” ujar Kelik.

Keputusan menghentikan operasi manual bukan berarti penanganan ditinggalkan. Petugas akan melakukan pemetaan ulang terhadap sebaran api dan kondisi medan untuk merumuskan langkah penanganan lanjutan. Koordinasi akan dilakukan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang guna memastikan sumber daya dan strategi yang tepat tersedia.

Helikopter Water Bombing Jadi Opsi Utama

Dalam situasi di mana akses darat tertutup dan angin terus bertiup kencang, Kelik menyatakan bahwa penggunaan helikopter untuk operasi water bombing merupakan langkah paling realistis untuk memadamkan api secara efektif.

“Kemungkinan itu satu-satunya cara untuk pemadamannya, karena medan sulit dan angin bertiup kencang,” kata Kelik.

Operasi water bombing dari udara memungkinkan tim menjangkau titik api yang tersembunyi di antara kontur perbukitan tanpa harus menapaki jalur curam dan berbatu. Namun, keberhasilan metode ini tetap bergantung pada kondisi cuaca di ketinggian, termasuk kecepatan angin dan visibilitas, yang harus dipantau secara berkala oleh tim koordinasi.

Dampak Kebakaran Sebelumnya dan Status Ekosistem

Kebakaran pertama pada Selasa (1/9/2026) diperkirakan telah menghanguskan area seluas sekitar 15 hektare. Objek yang terbakar meliputi semak-semak dan pohon-pohon yang masih dalam fase pertumbuhan muda. Sebagai kawasan hutan lindung, Gunung Batak memiliki fungsi ekologis penting: menjaga kualitas air sungai-sungai yang bermuara di kawasan Malang, melindungi keanekaragaman hayati, serta menjadi penyangga iklim mikro bagi wilayah sekitar.

Kebakaran berulang di kawasan yang sama dalam rentang waktu singkat menunjukkan bahwa faktor pemicu—baik berupa aktivitas manusia di sekitar kawasan maupun kondisi cuaca ekstrem—belum sepenuhnya teratasi. Pemadaman yang tidak tuntas pada tahap pertama dapat meninggalkan bara tersembunyi di bawah lapisan humus, yang kemudian menyala kembali ketika angin dan kelembapan berubah. Inilah yang tampaknya terjadi pada insiden Jumat lalu.

Konteks Lebih Luas: Karhutla di Jawa Timur

Gunung Batak bukan satu-satunya kawasan di Jawa Timur yang menghadapi ancaman kebakaran selama musim kemarau. Pola cuaca yang ditandai curah hujan rendah, kelembapan udara menurun, dan angin kencang menciptakan kondisi ideal bagi api untuk menyebar cepat di vegetasi kering. Bagi masyarakat Kabupaten Malang, kebakaran di kawasan pegunungan juga berdampak pada kualitas udara di permukiman bawah lereng serta berpotensi mengganggu aliran air dari mata-mata air yang bergantung pada tutupan hutan.

Penanganan lanjutan yang melibatkan BPBD dan potensi pengerahan helikopter menjadi penentu apakah kebakaran kali ini dapat dikendalikan sebelum meluas ke petak-petak hutan lindung di sekitarnya. Pemetaan ulang yang akan dilakukan petugas diharapkan memberikan gambaran akurat tentang sebaran bara tersisa sehingga operasi pemadaman berikutnya dapat diarahkan secara tepat sasaran, meminimalkan risiko bagi tim di lapangan, dan mempercepat pemulihan kawasan.

Frequently Asked Questions

What is Sempat Padam Kawasan Gunung Batak Kembali?

Sempat Padam Kawasan Gunung Batak Kembali is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Sempat Padam Kawasan Gunung Batak Kembali matter?

Sempat Padam Kawasan Gunung Batak Kembali matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *