Nasional

Karhutla di Kalimantan Semakin Mengerikan, Jarak Pandang Hanya Capai 2,8 Kilometer

khrisna-edit-1788461532-32f4771c4f

Karhutla di Kalimantan Semakin Mengerikan

Beritanara.com – Langit di atas Kalimantan Tengah kini tertutup kabut tebal yang membuat jarak pandang menyusut drastis hingga hanya 2,8 kilometer. Kondisi ini menjadi bukti nyata bahwa karhutla di Kalimantan semakin mengerikan bagi jutaan warga yang bergantung pada udara bersih untuk bernapas. Indeks kualitas udara telah melorot ke kategori tidak sehat, sehingga setiap aktivitas di luar ruangan—mulai dari bersepeda hingga bermain anak—menjadi ancaman nyata bagi sistem pernapasan.

Di balik kabut tersebut, api telah menghanguskan total 739 hektare lahan dan hutan di provinsi itu sepanjang musim kemarau 2026. Skala kerusakan ekologis yang ditimbulkan jauh melampaui kapasitas pemulihan alami ekosistem gambut dan hutan tropis setempat.

Penanganan Darurat dan Capaian Pemadaman

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengaktifkan satuan tugas darat berkekuatan 10.700 personel yang tersebar di berbagai titik api. Dukungan udara turut diberikan melalui satu helikopter water bombing untuk menjangkau area yang tidak bisa dilalui kendaraan darat. Dari total 739 hektare yang terbakar, tim gabungan telah berhasil mengendalikan 459 hektare—artinya lebih dari enam puluh persen api sudah padam, meski sisa lahan yang masih membara terus melepas partikel halus ke atmosfer.

Perkembangan penanganan tersebut disampaikan Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers update nasional pada Kamis (3/9/2026).

“739 hektare ini (yang terbakar) sudah dipadamkan 459 hektare lebih,” ujar Berton.

“Kualitas udara tidak sehat dan jarak pandang 2,8 kilometer,” tambahnya.

Sebaran Asap dan Dampak Lintas Wilayah

Kabut pekat tidak berhenti di batas provinsi. Berton menjelaskan bahwa konsentrasi asap tertinggi terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, serta beberapa titik di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Bagi penduduk di kawasan-kawasan itu, paparan PM2.5 berkepanjangan berarti risiko iritasi saluran napas, eksaserbasi asma, hingga peningkatan beban kardiovaskular—terutama pada anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis. Penggunaan masker, pembatasan aktivitas luar ruang, serta pemantauan indeks kualitas udara harian menjadi langkah mitigasi individual yang dianjurkan.

“Memang sangat pekat, tebal di Kalimantan bagian Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, dan beberapa titik di Sumatera, Riau, Jambi, maupun Sumatera Selatan,” kata Berton.

Prediksi Cuaca dan Tren Penurunan Polutan

Prakiraan BMKG untuk Jumat (4/9/2026) membawa sedikit harapan: intensitas asap di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan diprediksi akan mereda. Sebaliknya, Aceh justru diperkirakan menerima polutan pada hari berikutnya, sementara Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi relatif lebih cerah. Pergerakan angin ke arah utara dan barat laut masih membawa sisa partikel melintasi Selat Malaka dan Laut Natuna, sehingga potensi kabut lintas batas berskala ringan tetap mungkin terjadi.

“Tetapi Sumatera di bagian Riau, Sumatera Selatan, maupun Jambi relatif lebih terang,” jelas Berton.

Data yang dipaparkan BNPB merujuk pada prediksi BMKG tanggal 3–4 September. Tren yang terlihat menunjukkan memudarnya titik-titik polutan pekat secara signifikan di wilayah Sumatera dan Kalimantan, menandakan penurunan konsentrasi PM2.5 akibat perubahan arah angin.

FAQ: Hal yang Perlu Diketahui Warga

Apa yang harus dilakukan saat jarak pandang turun di bawah 3 kilometer?

Batasi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan atau kardiovaskular. Gunakan masker N95/KN95 jika terpaksa keluar rumah, tutup jendela dan pintu, serta pantau indeks kualitas udara melalui aplikasi resmi BMKG atau BNPB.

Berapa luas lahan yang sudah berhasil dipadamkan?

Dari total 739 hektare yang terbakar, 459 hektare telah berhasil dikendalikan oleh satgas darat dan udara BNPB per data Kamis (3/9/2026).

Apakah asap akan segera hilang?

Prakiraan BMKG untuk 4 September 2026 menunjukkan penurunan intensitas asap di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Namun, pergerakan angin ke utara dan barat laut masih berpotensi membawa sisa polutan ke wilayah lain, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan hingga kondisi benar-benar membaik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *