Dorong Ketahanan Pangan dan Ekonomi Petani Riau, PIPSI Bagikan 100 Ribu Pohon Cabai
Upaya dorong ketahanan pangan dan ekonomi petani di Provinsi Riau mendapat momentum baru melalui program Gerakan Tanam Cabe 100 Ribu Batang yang diluncurkan
PISPI Bagikan 100 Ribu Pohon Cabai Perkuat Ketahanan Pangan Riau
Beritanara.com – Upaya dorong ketahanan pangan dan ekonomi petani di Provinsi Riau mendapat momentum baru melalui program Gerakan Tanam Cabe 100 Ribu Batang yang diluncurkan Perhimpunan Insinyur Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI). Inisiatif ini menyasar langsung kebutuhan pangan harian masyarakat sekaligus membuka ruang pertumbuhan pendapatan bagi petani lokal yang selama ini bergantung pada komoditas musiman.
Penyerahan ke Instansi Strategis di Riau
Sebanyak 100 ribu batang pohon cabai telah diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Riau, Kodam XIX/Tuanku Tambusai, Polda Riau, dan Lanud RSN. Langkah ini bukan sekadar seremoni; ia dirancang sebagai intervensi konkret untuk memperluas areal tanam cabai di tingkat daerah dan menekan ketergantungan pasokan dari luar provinsi. Dengan distribusi massal ke instansi strategis, PISPI berharap efek penggandaan terjadi: setiap instansi menjadi titik awal replikasi di lingkungan kerja dan komunitas sekitar.
Strategi dari Benih hingga Pemasaran
Ketua Umum PISPI, Achmad Tjachja Nugraha, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari strategi dorong ketahanan pangan dan ekonomi yang berakar pada kebutuhan riil daerah. Ia menolak pandangan bahwa distribusi massal hanya bersifat simbolik.
“Target 100 ribu batang harus menjadi awal dari sistem produksi cabai yang terencana, terukur, dan berkelanjutan di Riau.”
Achmad menjelaskan bahwa peningkatan output cabai menuntut pendekatan sistematis: penyediaan benih bermutu tinggi, pendampingan teknis budidaya, hingga tata kelola pemasaran hasil panen. Cabai, menurutnya, menempati posisi strategis sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi yang mampu menggerakkan roda ekonomi rumah tangga petani di Riau secara langsung.
Panggilan Menjadi Gerakan Nasional
Ia juga menyerukan agar inisiatif ini melampaui batas wilayah dan menjelma gerakan nasional. Setiap rumah tangga, kata Achmad, dapat memanfaatkan lahan pekarangan sekecil apa pun untuk menanam tanaman konsumsi harian.
“Mari kita manfaatkan sekecil apapun pekarangan rumah untuk menanam tanaman yang dibutuhkan sehari-hari seperti cabe, bawang daun, selada, dan lainnya.”
Sebagai Guru Besar Program Studi Agribisnis Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Achmad menekankan bahwa keberlanjutan program bergantung pada penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam budidaya. Keterlibatan generasi muda, pelajar, komunitas, serta perguruan tinggi dinilai krusial, terlebih ketika dikaitkan dengan dunia usaha untuk membentuk ekosistem pertanian yang terintegrasi dan produktif.
“Pemerintah, petani, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat harus berkolaborasi. Mari para alumni insinyur pertanian dan sarjana pertanian mengimplementasikan ilmu pertanian dengan mengajak masyarakat menanam tanaman mudah yang biasa dikonsumsi.”
Kolaborasi lintas sektor inilah yang, menurut Achmad, menjadi kunci membangun ketahanan pangan yang kokoh dan berkelanjutan di tingkat daerah maupun nasional.
Respons BUMD Pangan Riau
Direktur BUMD Pangan Provinsi Riau yang juga menjabat Ketua BPW PISPI Provinsi Riau, Ade Putra Daulay, menyambut positif langkah tersebut. Ia menilai program ini berpotensi memperluas areal tanam cabai secara signifikan dan secara bertahap mengurangi ketergantungan Riau terhadap pasokan dari luar provinsi. Dengan dukungan kelembagaan yang tepat, Ade optimis target produksi regional dapat tercapai dalam beberapa musim tanam ke depan.
FAQ: Hal yang Perlu Diketahui
Siapa yang mendistribusikan 100 ribu batang cabai? PISPI menyerahkan batang cabai kepada Pemerintah Provinsi Riau, Kodam XIX/Tuanku Tambusai, Polda Riau, dan Lanud RSN sebagai titik awal replikasi.
Apakah program ini hanya bersifat seremonial? Tidak. Achmad Tjachja Nugraha menegaskan bahwa distribusi ini merupakan langkah awal sistem produksi cabai yang terencana, mencakup benih, budidaya, hingga pemasaran.
Bagaimana masyarakat biasa dapat berpartisipasi? Setiap rumah tangga dapat menanam cabai, bawang daun, selada, dan tanaman konsumsi harian lainnya di pekarangan rumah, sekecil apa pun lahannya, dengan pendampingan teknis dari komunitas pertanian setempat.
